SEKILAS INFO
26-04-2019
  • 1 bulan yang lalu / UIN Walisongo Semarang Terakreditasi  “A”
  • 1 bulan yang lalu / Pendaftaran Beasiswa BI Tahun 2019–> lihat Pengumuman
  • 2 bulan yang lalu / Pengumuman Beasiswa Baznas 2019–> Kolom pengumuman
18
Feb 2019
Pelantikan Senat Mahasiswa FEBI dan Seminar Regional Bertemakan "Politik Cerdas"

Untuk meramaikan prosesi pelantikan, Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam juga menyelenggarakan seminar regional bertajuk “Politik Cerdas Menuju Indonesia Emas”. Pada seminar kali ini, panitia turut mengundang narasumber dari pengamat politik, anggota Komisi Pemilihan Umum dan  Badan Pengawas Pemilu Provinsi Jawa Tengah. Senin (18/02/19)

Materi pertama disampaikan oleh Sri Wahyu Ananingsih, Bawaslu provinsi jawa tengah. Ia menjelaskan contoh pelanggaran-pelanggaran dalam kampanye meliputi pelanggaran administratif,Kewenangan menangani pelanggaran meliputi pelanggaran administratif, pidana, dan kode etik. “Nah apabila adek- adek tahu ada kampanye yang dipaku di pohon, nah itu pelanggaran administratif” jelas wanita setengah baya itu.

Materi kedua disampaikan oleh M. Taufiqurrahman, ST, anggota KPU Jateng. Ia memaparkan sedikit tentang apa itu pemilu demokratis. “Tidak semua negara yang mengadakan pemliu dikatakan demokratis, ada yang saking penguasanya diktator sehingga pihak pemilu di tekan” mulainya

Menurutnya pemilu demokratis itu memiliki beberapa tipe, “Penyelenggara pemilu netral dan profesional, ada kompetensi yang jujur dan terbuka bagi semua peserta pemilu, ada pemilih yang bebas untuk mempertimbangkan serta mendiskusikan pilihannya

Terakhir, lelaki berkepala setengah botak itu menjelaskan mekanisme pemilihan bagi mahasiswa rantau, berkenaan jumlah pemilih pemula sangat signifikan, jangan sampai tidak berarti karena kesalahan pribadi. “apabila adek-adek pindah memilih, dan karena adek-adek bukan asli sini, maka cuma dapet satu surat suara yaitu presiden atau ditambah dpd bagi provinsinya masih sama” pungkasnya.

Materi ketiga disampaikan oleh Drs. H. Nur Syamsuddin, M.Ag. salah seorang pengamat politik. Menurutnya black campaign yang beredar di sosial media yang menjadikan pemilu tidak damai dan menjadi pembelajaran politik yang tidak baik. ” Di dalam pemilu pasti ada kontestasi yang sangat ketat, seakan akan warga indonesia terbelah menjadi dua, ketika sudah masuk dengan sosmed maka bisa jadi memecah perdamaian” Ujarnya.

Melihat portal web resmi  yang terdaftar di Infokom ada 300, tetapi yang share sampai 2700. Ia memberi beberapa solusi terkait jumlah kaum milenial yang produktif hingga 54%. “Pertama dari pihak penegak hukum seperti bawaslu atau polri, kedua masyarakat harus melaporkan dan mengadukan, ketiga cerdaslah bersosial media” jelas dosen UIN tersebut.

Ia menghimbau agar mahasiswa bisa mengubah maind set masyarakat untuk mengshare hal-hal positif.  “Karena dengan positif akan menimbulkan perdamaian” pungkasnya. (Alief_[i])