Bukan Sekadar Angka: FEBI UIN Walisongo Gelar Studium General, Membongkar Mitos Pertumbuhan di Tengah Dominasi Oligarki

Semarang, 8 September 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Walisongo Semarang menggelar Studium General dengan tema kritis: “Betulkah Ekonomi Kita Baik-Baik Saja? Membongkar Mitos Pertumbuhan Di Tengah Kepungan Oligarki”. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Teater Lt. 4 Gedung Library and ICT Center ini menghadirkan pakar ekonomi nasional untuk membedah secara mendalam realitas pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai sarat dengan kepentingan kelompok tertentu.

Acara yang diadakan pada Selasa (8/9/2026) ini secara resmi dibuka oleh Dekan FEBI UIN Walisongo, Dr. H. Khoirul Anwar, M.Ag. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Studium General ini merupakan wadah kritis bagi sivitas akademika untuk tidak terjebak pada angka-angka pertumbuhan semata, melainkan melihat secara jujur struktur ekonomi yang ada. “Kita perlu membedah apakah pertumbuhan yang selama ini kita rayakan benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, atau hanya menjadi mitos yang dibangun di tengah dominasi segelintir kekuasaan ekonomi,” ujarnya.

Diskusi utama dipandu oleh Dr. Wasyith, MEI, Dosen FEBI UIN Walisongo, yang bertindak sebagai moderator. Ia membawa jalannya diskusi dengan lugas, menggali pandangan mendalam dari narasumber utama, Akhmad Akbar Susamto, SE, M.Phil, Ph.D. Pembicara yang merupakan Dosen Ilmu Ekonomi FEB UGM sekaligus menjabat sebagai Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter di CORE Indonesia ini menyajikan data dan analisis terkini yang mengkritisi optimisme pertumbuhan ekonomi.

Dalam paparannya, Akbar Susamto menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi kita stagnan di sekitar 5%, jauh dari target ambisius pemerintah. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III dan IV 2026 akan lebih rendah daripada kuartal sebelumnya, yang dipicu oleh ketidakpastian global, pengetatan kebijakan moneter, dan penyerapan anggaran belanja pemerintah yang tinggi pada kuartal I dan II. Lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga, dan ketidakpastian global dapat menaikkan biaya pembiayaan pemerintah. Tekanan juga dapat muncul melalui subsidi, kompensasi, pembayaran bunga utang, dan kebutuhan stabilisasi ekonomi. Dengan struktur seperti ini, risiko fiskal tidak hanya tercermin pada defisit, tetapi juga pada komposisi belanja dan ruang manuver APBN.

Memasuki sesi tanya jawab, ruang teater berubah menjadi arena diskusi yang hidup dan penuh semangat. Mahasiswa dari berbagai program studi berebut mengacungkan tangan untuk bertanya kepada narasumber. Pertanyaan-pertanyaan kritis pun mengalir deras, mulai dari isu PHK yang semakin meningkat, skill mismatch, sampai meningkatnya utang pemerintah yang telah tembus 10 ribu triliun rupiah. Begitu derasnya antusiasme peserta, moderator Dr. Wasyith, MEI, terpaksa membatasi sesi tanya jawab karena waktu yang terus berjalan, namun semangat diskusi tetap terasa hingga acara resmi berakhir.

Dr. Wasyith mengakhiri sesi dengan kesimpulan bahwa momentum ini diharapkan mampu membangkitkan kesadaran bersama: pertumbuhan ekonomi tak boleh dilepaskan dari nilai-nilai keadilan, selaras dengan prinsip ekonomi Islam. Kegiatan ini pun menjadi pijakan awal mahasiswa baru dalam mendalami isu-isu perekonomian nasional.